News
    PPTI Dorong Sinergi Komunitas dan Dunia Usaha untuk Percepat Eliminasi TB 2030

    PPTI Dorong Sinergi Komunitas dan Dunia Usaha untuk Percepat Eliminasi TB 2030

    JAKARTA – Peran sektor komunitas dan dunia usaha dinilai penting dalam mempercepat upaya eliminasi tuberkulosis (TB) di Indonesia. Perlu kolaborasi lintas sektor  guna mendongkrak temuan kasus, mendorong pengobatan tuntas, sekaligus melawan stigma pasien TB.

    Hal ini mengemuka dalam Webinar Reguler Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) yang digelar PPTI Cabang Kutai Timur, Rabu (23/9/2026).

    Mengusung tema “Peran Aktif Sektor Komunitas dan Dunia Usaha Mendukung Eliminasi TB 2030” webinar diikuti  235 peserta secara daring.

    Dalam sambutannya, Ketua Umum PPTI Pusat, Ir. Yani Panigoro, MM, mengungkapkan

    “Sinergitas peran ppti dengan stakeholder yang menekankan pentingnya kolaborasi bersama pemerintah daerah dan dunia usaha dalam penanggulangan TBC. Selain itu, Kutai Timur hebat tanpa stigma TBC yang menyoroti aspek edukasi dan psikososial agar pasien TBC tidak merasa terasingkan.”

    Perkuat Penemuan Kasus TB di Masyarakat

    Ketua PPTI Cabang Kutai Timur, Ir. Hj. Siti Robiah, menjelaskan berbagai upaya dilakukan PPTI Cabang Kutai Timur untuk mempercepat penemuan kasus TB.

    Menurutnya, mobilisasi masyarakat menjadi salah langkah penting agar lebih mudah mendapatkan akses skrining TB. Misalnya melalui  Posyandu, Posbindu/Poswindu, maupun layanan kesehatan keliling.

    Selain itu, PPTI juga mendorong promosi deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan, termasuk pemeriksaan dahak secara lebih luas pada komunitas yang memiliki risiko tinggi terhadap TB. “Penemuan kasus secara aktif perlu dilakukan dengan mendekatkan layanan kepada masyarakat dan meningkatkan kesadaran untuk cek kesehatan sejak dini,” tegasnya.

    Stigma Masih Menjadi Tantangan

    Stigma pasien TB juga masih menjadi tantangan.

    dr. Andi Zulkifli, Sp.Kj menjelaskan stigma negatif menghambat upaya  pengobatan pasien TB, seperti risiko pasien putus berobat  atau lost to follow-up. Ketakutan masyarakat tertular TB juga memicu lingkungan menjauhi pasien. Akibatnya pasien kehilangan dukungan sosial untuk berobat sampai sembuh.

    Di sisi lain, stigma memaksa pasien memilih menyembunyikan penyakitnya. Akibatnya, pasien terlambat diobati. Itu sebabnya edukasi  TB harus diperkuat agar masyarakat paham TB bisa dicegah dan disembuhkan.

    Dunia Usaha Punya Peran Strategis

    Keterlibatan dunia usaha juga menjadi sorotan Superitendent Community Health & Education PT Kaltim Prima Coal, Febriana Kurniasari, SKM., M.Ant.

    Menurutnya, keterlibatan dunia usaha diperlukan karena tiga hal. Pertama, adanya mandat nasional yang sejalan dengan regulasi pemerintah dalam  eliminasi TB.

    Kedua, keterlibatan itu  dapat menjadi bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan sekaligus mendukung komitmen terhadap keberlanjutan.

    Ketiga, dunia usaha memiliki akses langsung kepada komunitas, terutama melalui lingkungan kerja dan masyarakat di sekitar kegiatan perusahaan. Hal ini membuka peluang untuk memperluas edukasi, deteksi dini, skrining, serta dukungan terhadap pasien TB.

    Kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, komunitas, fasilitas kesehatan, dan dunia usaha dinilai dapat memperluas jangkauan program TB hingga ke tingkat masyarakat.

    Diskusi interaktif ini menjadi ajang tanya jawab peserta tentang solusi terbaik menanggulangi TB.

    Peserta kian semangat karena ada kuis berhadiah. Melalui webinar ini, PPTI kembali menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan TB. Peran aktif masyarakat dan dunia usaha diharapkan dapat memperkuat upaya penemuan kasus, mendukung keberhasilan pengobatan, mengurangi stigma, serta memperluas gerakan bersama menuju eliminasi TB 2030

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *