
Pentingnya Skrining Dan Pencegahan Dalam Penanggulangan Tuberkulosis
Pada bulan November 2025 ini jurnal ilmiah internasional “Lancet Global Health” menurunkan artikel amat menarik yang berjudul “The effectiveness, cost-effectiveness, budget impact, and return on investment of scaling up tuberculosis screening and preventive treatment in Brazil, Georgia, Kenya, and South Africa: a modelling study”. Penelitian berskala besar yang didukung WHO ini menyasar pada tiga kelompok risiko tinggi. Pertama adalah kontak serumah pasien TB atau mereka yang tinggal serumah dengan pasien, ke dua adalah orang yang hidup dengan HIV dan ke tiga adalah kelompok risiko tinggi lain yang ditentukan di negara-negara tempat penelitian ini dilakukan.
Walaupun penelitianya bukan di Indonesia tetapi menjadi amat penting untuk kita karena tiga hal. Pertama, karena pengendalian tuberkulosis (TB) merupakan salah satu program prioritas Presiden dan Wakil Presiden kita kini. Kedua, karena artikel ini mengangkat dua issue penting penanggulangan TB, yaitu skrining dan pencegahan. Ketiga karena penelitian ini memberi bukti ilmiah yang jelas, dan ini sejalan dengan kebijakan publik berbasis bukti, “evidence-based public policy”.
Perlu kita kenal dulu tentang dua kegiatan penting ini. Pertama tentang skrining, yaitu berbagai upaya untuk menemukan kasus tuberkulosis yang meliputi identifikasi gejala, berbagai jenis tes cepat molekuler dan pemeriksaan ronsen dada apalagi yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan (“artificial intelligence”). Skrining punya tiga manfaat utama, mendeteksi penyakit sejak dini, memutus rantai penularan, dan melindungi mereka yang risiko tinggi tertular.
Kegiatan penting kedua adalah pencegahan, dalam bentuk pengobatan pencegahan (“preventive treatment”) yang perlu diberikan pada mereka dengan tuberkulosis laten, yaitu yang di dalam tubuhnya sudah ada kuman TB tetapi belum menampilkan gejala sakit TB. Data kita di Indonesia menunjukkan, target mereka yang harus dapat menerima pengobatan pencegahan TB harusnya adalah 956.212 (72 persen) orang yang merupakan kontak serumah penderita TB, dan pencapaiannya sampai 15 Oktober 2025 baru 159.184 orang (12 persen). Artinya, memang perlu kerja ekstra keras untuk mencapai target yang sudah dicanangkan di tingkat nasional.
Nah, hasil penelitian ilmiah internasional di atas yang dipublikasikan awal bulan ini mendapat bukti bahwa peningkatan kegiatan skrining dan pencegahan secara bersama-sama dapat mencegah kejadian TB sebesar 14 persen di Georgia, 15 persen di Brazil, 21 persen di Kenya dan 26 persen di Afrika Selatan, antara tahun 2024 dan 2025. Kalau yang dilakukan hanya pengobatan dan pencegahan, maka dampaknya akan sekitar sepertiga dari angka-angka ini. Jadi memang harusnya keduanya dilakukan bersama-sama.
Dari kacamata ekonomi, proyeksi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2024 sampai 2050 nanti maka setiap 1 dolar Amerika Serikat yang diinvestasikan untuk meningkatkan skrining dan pencegahan tuberkulosis akan menghasilkan manfaat sosial (“societal return”) yang secara ekonomik setara dengan 51 dolar AS di Brazil, 8 dolar AS di Georgia, 27 dolar AS di Kenya dan 54 dolar AS di Afrika Selatan.
Sebagai penutup ditegaskan, penelitian internasional ini membuktikan skrining dan pencegahan yang benar dan baik akan punya dampak ganda, perbaikan kesehatan masyarakat dan dampak efektivitas ekonomi pula.
Akan baik kalau program penanggulangan TB di negara kita juga lebih memberi perhatian pada skrining dan pencegahan, dua aspek penting dalam pengendalian TB. Kalau kita memang ingin eliminasi TB pada tahun 2030. Selain upaya yang dilakukan pemerintah dalam berbagai tingkatannya, tentu hasil akan lebih optimal dalam kerja bersama berbagai organisasi masyarakat yang bergerak dalam pengendalian tuberkulosis, seperti Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) dan “Stop TB Partnership Indonesia (STPI)”, “Yayasan Kemitraan Strategis Tuberkulosis.”
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Badan Pengawas Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) dan Dewan Penasehat Stop TB Partnership Indonesia (STPI)
Penerima Karya Bhakti Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat, Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramadharma Paramahasiswa 2024 dan Penghargaan Pengembang Achmad Bakrie XXI 2025