KEMENKES MENGUBAH STRATEGI PENEMUAN PASIEN TB

 

Jakarta,  25 September 2019.

Untuk mempercepat eliminasi TB di Indonesia, Wakil Presiden Jusuf Kalla minta empat hal kepada Menkes Prof. Dr. dr. Nila F Moeloek.         Pertama, memperlakukan TB seperti isu Stunting, harus ada upaya percepatan dalam pencapaian eliminasi TB tahun 2030. Kedua, menjadikan TB sebagai bagian dari komunikasi publik sehingga TB bukan hanya merupakan masalah kesehatan. Ketiga, harus dibuat intervensi dari aspek kesehatan dan aspek sosial. Keempat, adanya pembagian peran dan tanggung  jawab setiap Kemen-terian/Lembaga, swasta serta pengusaha.

Hal itu disampaikan Dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes., Direktur P2ML Kemenkes RI pada acara peluncuran Video Tutorial  Pelatihan TB Bagi Kader produksi PPTI tanggal 24 September 2019 di Jakarta.

Berdasarkan arahan tersebut, Kementerian Kesehatan mengubah strategi penemuan pasien TB tidak hanya “secara pasif dengan aktif promotif”  tetapi juga melalui “penemuan aktif secara intensif dan masif  berbasis keluarga dan masyarakat“ serta melalui pemberdayaan masyarakat secara optimal, dengan tetap memperhatikan dan mempertahankan layanan yang bermutu sesuai standar.

Pelibatan kader dalam program penanggulangan TB merupakan salah satu upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan melalui kegiatan menginformasikan, mempengaruhi dan membantu masyarakat agar berperan aktif dalam  penemuan dan pendampingan pasien TB. Peran aktif kader ini akan dapat dipenuhi dengan membekali kader kesehatan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Pengetahuan dan keterampilan tersebut salah satunya dapat diperoleh melalui pelatihan atau penyuluhan penemuan dan pendampingan pasien TB bagi kader kesehatan.

Dr. Wiendra menyambut baik diluncurkannya video tutorial PPTI ini sehingga   dapat menjadi media pembelajaran yang baik seluruh kader kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan TB.

Direktur P2ML berharap,  pemberian penyuluhan dalam bentuk  video tutorial ini bisa digunakan dengan optimal oleh seluruh pengurus PPTI baik di wilayah dan cabang dan secara umum oleh semua pihak yang membutuhkan pelatihan bagi para kader kesehatan yang dimilikinya. Inovasi kreatif ini,  sangat berharga untuk memperkaya metode pelatihan kader konvensional yang selama ini ada.

Selanjutnya dr. Wiendra minta  kepada kader sebagai ujung tombak pengendalian pencegahan penyakit TB di masyarakat dapat berperan aktif dengan cara;

  1. Memberikan edukasi dan informasi tentang TB kepada masyarakat
  2. Membantu pelacakan kontak erat pasien TB
  3. Mendampingi orang terduga TB untuk memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan
  4. Dukungan motivasi sebagai Pengawas Menelan Obat anti TB.

 

Menurut dr. Wiendra,  TB  masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia  yang juga menjadi tantangan global.  Pemerintah Indonesia menetapkan TB adalah salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama.  Indonesia merupakan salah satu dari negara dengan beban penyakit TB tertinggi di dunia.

Estimasi jumlah kasus pada tahun 2018 sebesar 843.000, serta beban TB-HIV 10.368, TB Anak 62.089, TB RO ( Resisten Obat ) 4.413. Belum lagi mengenai rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit TB akibat rendahnya pengetahun masyarakat.  Juga tingginya angka putus berobat pada pasien TB. Hal ini memacu program pengendalian TB nasional terus melakukan intensifikasi, akselerasi, ekstensifikasi dan inovasi program melalui Strategi Nasional Pengendalian TB.

Berita ini disiarkan oleh BPP-PPTI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui telepon/faks: 021-7397494  atau alamat e-mail PPTI : ppti66@yahoo.com

Badan Pengurus Pusat PPTI

Drg. Mariani Reksoprodjo

Sekretaris Umum

admin ppti

VIEW ALL POSTS

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *